Hening ruangan menyelimuti suasana ujian
yang sedang berlangsung. Akupun sabar menunggu instruksi dari pengawas ujian.
Begitu aba-aba mulai semua mahasiswa di bolehkan untuk mengerjakan soal-soal
yang sudah di sajikan. Bismillah….dalam hatiku dengan penuh semangat dan
optimis mengerjakan soal-soal ujian mata kuliah ini. Aku yakin dapat mengerjakan
dengan baik, karena aku sudah mempersiapkannya dengan belajar sungguh-sungguh
dan berdoa. Spontan aku terkaget ketika aku mulai mengerjakan soal-soal ujian,
aku meneliti semua petunjuk mengerjakan soal-soal ujian ternyata close book dan
parahnya lagi tidak ada rumusnya sama sekali. Ya…Rabb aku merasakan ini
benar-benar kiamat sugro, aku tidak bisa mengerjakan soal-soal ini tanpa rumus.
Dengan kebingunganku aku mencoba menjawab seadanya dengan bekal sisa-sisa
ingatan latihan mengerjakan soal-soal semalam. Ya…Rabb bagaimana ini, aku tidak
mau mengulang mata kuliah ini, aku tidak mau menambah daftar nilai jelek mata
kuliahku lagi. Ya Rabb….aku harus lulus dan jangan sampai mata kuliah yang aku
ambil semester ini ada yang tidak lulus. Bantu aku Ya Rabb….., akhirnya dengan
berjalannya waktu yang ku rasakan terasa sangat singkat soal demi soal aku
berhasil menyelesaikannya. Di akhir sebelum aku mengumpulkan jawaban ke
pengawas, aku mencoba menulis memo yang kebanyakan teman-teman lakukan ketika kedua
atau ketiga kalinya menempuh mata kuliah mengulang ataupun ketika kurang
optimis dengan hasil pekerjaannya. Terus terang selama kuliah berlangsung baru
semester ini aku menulis memo. Mungkin dengan memo ini akan membantu
meringankan beban perasaanku terhadap hasil pekerjaanku, hem seketika anganku
langsung melayang ketika aku membuka SIA (Sistem Informasi Akademik) tertera
nilai A atau B wah senyum kecil
menyungging di bibirku, mencoba menghibur bathinku yang sedang gundah gulana
ini. Setelah ku rasa semua soal sudah aku selesaikan, aku hanya memandangi
hasil pekerjaanku, ingin hati menangis tapi aku berusaha menahannya. Jangan sampai
tetesan air mataku membasahi hasil pekerjaanku, lagi pula aku pasti akan malu
ketika teman-teman melihatku. Hem tetap tersenyum dan optimis, pasti lulus,
lagi-lagi aku mencoba menghibur diriku sendiri.
Terdengar
instruksi dari salah satu pengawas memberitahukan bahwa waktu telah habis dan
di harapkan semua hasil pekerjaan segera di kumpulkan. Akupun beranjak dari
kursiku, seperti halnya teman-teman yang lainnya. Sekelebat pandanganku tertuju
pada teman-temanku ketika mereka mengumpulkan jawabannya, aku melihat ada
kertas yang berisi rumus-rumus tapi tidak aku hiraukan, mungkin hanya
perasaanku saja. Aku langsung meninggalkan ruangan ujian dengan perasaan campur
aduk antara sedih dan bingung. Setelah keluar dari ruangan, Nina yang selama
ini menjadi teman seperjuanganku menghampiriku dan langsung menepuk bahuku seraya
bertanya padaku. “ Gimana pekerjaanmu?” Tanya dia sambil menenteng tas imutnya
itu. “Ya gitu deh….terus gimana dengan kamu? Jawabku sekenanya “Aku gak tahu,
aku gak yakin dengan hasil pekerjaanku, aku gak hafal rumusnya sama sekali.”
Nin langsung kaget “Ha…..bukannya kita dikasih rumus?”matanya melotot.
Akupun menjawab “Astaghfirullahhaladzim aku gak tahu Nin, aku kira kita close
book dan gak dikasih rumus.”bibirku manyun. “Kenapa kamu gak minta sama
pengawas? Aku pikir kamu sudah dikasih. Dari tadi kamu tenang-tenang saja. “Aduh….
Aku gak tahu sama sekali nin, tahu sendiri kamu kalau aku sudah di ruangan
yach langsung ambil posisi duduk dan gak tengak tengok sama sekali. Terus
gimana ini ning?”tanyaku panik (kepalaku mulai pusing). “Ya sudah tenang saja
dulu, pasti nanti ada jalan keluarnya.”jawabnya menghiburku. Tanpa pikir
panjang, aku langsung menemui ruangan ujian dan bertemu dengan pengawas. Maksud
hati ingin mendapat pencerahan, tapi malah semprotan yang aku dapatkan.
Kutanyakan perihal tadi, namun dengan lancarnya sambil memberesi kertas ujian
sang pengawas memarahiku. “Kamu sih gimana mbak? Yang kuliah malah ceroboh.”
Duh….betapa bodohnya aku. Ceroboh. Maafkan aku ya Rabb. Nasi sudah menjadi
bubur. Senjataku tinggal menunggu hasil ujianku. Kupasrahkan padaMu Ya Rabb.
Kutinggalkan
ruang ujian, dengan langkah gontai menuju ruangan dosen yang mengampu mata
kuliah ini, ternyata di ruangannya gak ada beliau. Aku mencoba mencari
informasi ke kakak-kakak senior yang kebetulan sedang menunggu beliau untuk
bimbingan skripsi. Bersama mereka akupun mencoba menceritakan sekelumit permasalahan
yang baru kuhadapi. Setelah menunggu lumayan lama, kakak-kakak senior yang disampingku
mencoba menghubungi beliau. Ternyata beliau sedang berada dirumah, lagi cuti.
Wah tambah paniklah aku, akupun langsung minta no HPnya beliau. Setelah
mendapatkan no HPnya akupun langsung pulang menuju kosan tempat persinggahan
melepas lelah dan penat. Di tengah perjalanan pulang, akupun langsung mencoba
menghubungi beliau. Tut……tut…..klek! suara penuh bijak terdengar di telingaku dari ujung telepon nun jauh di sana.
Kuutarakan maksudku terkait dengan permasalahanku tadi, kemudian beliau bersedia
bertemu denganku pekan depan.
Hari
berganti hari penantian yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Dengan penuh
semangat ku langkahkan kaki menuju kampus seperti biasanya. Dari pagi aku
sengaja menunggu beliau di depan ruangannya. Kampus masih kelihatan sepi, tapi
itu semua tidak membuatku merasa malas ataupun tidak semangat. Ternyata setelah
berjam-jam lamanya aku menunggu dengan sabar, beliau tak kunjung datang. Aku
mulai putus asa, tapi aku harus tetap semangat memperjuangkan ini. “Ayo San
demi nilai harus bisa, perjuangan belum berakhir sampai disini ayo optimis,
pasti hari ini bisa ketemu beliau.”batinku dalam hati. Lagi-lagi aku mencoba
menghibur diri. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, akhirnya aku bisa
bertatap muka dengan beliau. Alhamdulillah. . Aku mulai menceritakan satu per
satu masalah yang kualami, reaksi beliau hanya diam dan berdehem. “Kalau gak
dikasih rumus harusnya logikanya jalan mbak.”kata beliau dengan mimik agak
kesal padaku. Huft… sekali lagi, akulah yang bersalah dalam hal ini. Aku hanya
menundukan kepala dan menyadari kelalaianku itu. Terus aku mencoba minta solusi
agar ada kebijakan-kebijakan yang beliau berikan. Ternyata aku harus nunggu
lagi sampai keperluan beliau beres. Akupun hanya bisa menunggu dan senantiasa
berdoa agar ada keajaiban terhadap nilai mata kuliah ini, sangat berharap lulus
tanpa mengulang.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu akhirnya tanpa sengaja dan tak terduga
aku bertemu beliau di mata kuliah semester pendek yang sedang aku ambil.
Setelah selesai kuliah akupun langsung menanyakan nasib mata kuliahku itu.
Hem…..beliau hanya menjawab belum di koreksi, ya sudahlah aku harus sabar
menunggunya. Di luar ruangan, terdengar teman-teman sedang asyiknya
membicarakan nilai yang sudah pada keluar, aku penasaran, jangan-jangan nilai
mata kuliahku itu sudah keluar juga. Aku gak berani lihat nilaiku di SIA. Kuberanikan
diri bertanya pada dosenku itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya aku menanyakan
hal ini. Dengan segala keberanian yang aku kumpulkan, akhirnya kugerakkan jemari
tanganku mencoba mengetik SMS kepada beliau. Deg-degan luar biasa aku menunggu
balasan dari beliau. Huft ada pesan masuk di ponselku. Ups ternyata beliau,
langsung kubuka kotak masuk diponselku. Hanya SMS singkat yang aku dapatkan,
kata beliau nilai sudah masuk. Waahh tambah deg-degan lagi nih, aku semakin
berharap dan cemas. Kubalas lagi sms beliau. “Insya Allah saya siap dan ikhlas
dengan keputusan yang bapak berikan.” Selang beberapa menit beliau membala
SMSku,
Saya hargai kejujuran anda dan silahkan
lihat nilainya.
Seketika air mataku pun langsung menetes tanpa
harus kusuruh. Aku merasa setitik harapan yang cerah terhadap nilaiku itu
benar-benar akan menjadi kenyataan, akupun langsung semangat lagi dan optimis
pasti nilaiku lulus. Subhanallah….sebuah kata yang tak bisa di ungkapakan. Aku
senang banget mengartikan maksud SMS dari beliau. Namun aku tak langsung berani
membuka SIA, setelah beberapa hari Nina mencoba melihat SIA punyaku. Alhasil
mata kuliah itu dapat C, dengan berat hati ia memberi tahukan nilaiku itu.
Akupun hanya terdiam dan berkata “Alhamdulillah mungkin ini yang terbaik
buatku. Tapi aku puas dengan perjuanganku, walaupun hasilnya bukan yang ku
harapakan. Tapi aku percaya Allah memberikan bukan apa yang aku inginkan tapi
memberikan apa yang aku butuhkan. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku
lupakan sampai di bangku kerja nanti. Semuanya akan kujadikan pengalaman agar
aku lebih teliti dalam menjalankan segala sesuatu. Tetap semangat untuk menuju
sesuatu yang terbaik.
Note:
Mohon doanya kawan semester ini aku ngulang mata kuliah ini semoga dapat nilai A.
Note:
Mohon doanya kawan semester ini aku ngulang mata kuliah ini semoga dapat nilai A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar