Jumat, 06 April 2012

Nilaiku tersangkut di Rumus


Hening ruangan menyelimuti suasana ujian yang sedang berlangsung. Akupun sabar menunggu instruksi dari pengawas ujian. Begitu aba-aba mulai semua mahasiswa di bolehkan untuk mengerjakan soal-soal yang sudah di sajikan. Bismillah….dalam hatiku dengan penuh semangat dan optimis mengerjakan soal-soal ujian mata kuliah ini. Aku yakin dapat mengerjakan dengan baik, karena aku sudah mempersiapkannya dengan belajar sungguh-sungguh dan berdoa. Spontan aku terkaget ketika aku mulai mengerjakan soal-soal ujian, aku meneliti semua petunjuk mengerjakan soal-soal ujian ternyata close book dan parahnya lagi tidak ada rumusnya sama sekali. Ya…Rabb aku merasakan ini benar-benar kiamat sugro, aku tidak bisa mengerjakan soal-soal ini tanpa rumus. Dengan kebingunganku aku mencoba menjawab seadanya dengan bekal sisa-sisa ingatan latihan mengerjakan soal-soal semalam. Ya…Rabb bagaimana ini, aku tidak mau mengulang mata kuliah ini, aku tidak mau menambah daftar nilai jelek mata kuliahku lagi. Ya Rabb….aku harus lulus dan jangan sampai mata kuliah yang aku ambil semester ini ada yang tidak lulus. Bantu aku Ya Rabb….., akhirnya dengan berjalannya waktu yang ku rasakan terasa sangat singkat soal demi soal aku berhasil menyelesaikannya. Di akhir sebelum aku mengumpulkan jawaban ke pengawas, aku mencoba menulis memo yang kebanyakan teman-teman lakukan ketika kedua atau ketiga kalinya menempuh mata kuliah mengulang ataupun ketika kurang optimis dengan hasil pekerjaannya. Terus terang selama kuliah berlangsung baru semester ini aku menulis memo. Mungkin dengan memo ini akan membantu meringankan beban perasaanku terhadap hasil pekerjaanku, hem seketika anganku langsung melayang ketika aku membuka SIA (Sistem Informasi Akademik) tertera nilai A atau B  wah senyum kecil menyungging di bibirku, mencoba menghibur bathinku yang sedang gundah gulana ini. Setelah ku rasa semua soal sudah aku selesaikan, aku hanya memandangi hasil pekerjaanku, ingin hati menangis tapi aku berusaha menahannya. Jangan sampai tetesan air mataku membasahi hasil pekerjaanku, lagi pula aku pasti akan malu ketika teman-teman melihatku. Hem tetap tersenyum dan optimis, pasti lulus, lagi-lagi aku mencoba menghibur diriku sendiri.
Terdengar instruksi dari salah satu pengawas memberitahukan bahwa waktu telah habis dan di harapkan semua hasil pekerjaan segera di kumpulkan. Akupun beranjak dari kursiku, seperti halnya teman-teman yang lainnya. Sekelebat pandanganku tertuju pada teman-temanku ketika mereka mengumpulkan jawabannya, aku melihat ada kertas yang berisi rumus-rumus tapi tidak aku hiraukan, mungkin hanya perasaanku saja. Aku langsung meninggalkan ruangan ujian dengan perasaan campur aduk antara sedih dan bingung. Setelah keluar dari ruangan, Nina yang selama ini menjadi teman seperjuanganku menghampiriku dan langsung menepuk bahuku seraya bertanya padaku. “ Gimana pekerjaanmu?” Tanya dia sambil menenteng tas imutnya itu. “Ya gitu deh….terus gimana dengan kamu? Jawabku sekenanya “Aku gak tahu, aku gak yakin dengan hasil pekerjaanku, aku gak hafal rumusnya sama sekali.” Nin langsung kaget “Ha…..bukannya kita dikasih rumus?”matanya melotot. Akupun menjawab “Astaghfirullahhaladzim aku gak tahu Nin, aku kira kita close book dan gak dikasih rumus.”bibirku manyun. “Kenapa kamu gak minta sama pengawas? Aku pikir kamu sudah dikasih. Dari tadi kamu tenang-tenang saja. “Aduh…. Aku gak tahu sama sekali nin, tahu sendiri kamu kalau aku sudah di ruangan yach langsung ambil posisi duduk dan gak tengak tengok sama sekali. Terus gimana ini ning?”tanyaku panik (kepalaku mulai pusing). “Ya sudah tenang saja dulu, pasti nanti ada jalan keluarnya.”jawabnya menghiburku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menemui ruangan ujian dan bertemu dengan pengawas. Maksud hati ingin mendapat pencerahan, tapi malah semprotan yang aku dapatkan. Kutanyakan perihal tadi, namun dengan lancarnya sambil memberesi kertas ujian sang pengawas memarahiku. “Kamu sih gimana mbak? Yang kuliah malah ceroboh.” Duh….betapa bodohnya aku. Ceroboh. Maafkan aku ya Rabb. Nasi sudah menjadi bubur. Senjataku tinggal menunggu hasil ujianku. Kupasrahkan padaMu Ya Rabb.
Kutinggalkan ruang ujian, dengan langkah gontai menuju ruangan dosen yang mengampu mata kuliah ini, ternyata di ruangannya gak ada beliau. Aku mencoba mencari informasi ke kakak-kakak senior yang kebetulan sedang menunggu beliau untuk bimbingan skripsi. Bersama mereka akupun mencoba menceritakan sekelumit permasalahan yang baru kuhadapi. Setelah menunggu lumayan lama, kakak-kakak senior yang disampingku mencoba menghubungi beliau. Ternyata beliau sedang berada dirumah, lagi cuti. Wah tambah paniklah aku, akupun langsung minta no HPnya beliau. Setelah mendapatkan no HPnya akupun langsung pulang menuju kosan tempat persinggahan melepas lelah dan penat. Di tengah perjalanan pulang, akupun langsung mencoba menghubungi beliau. Tut……tut…..klek! suara penuh bijak terdengar  di telingaku dari ujung telepon nun jauh di sana. Kuutarakan maksudku terkait dengan permasalahanku tadi, kemudian beliau bersedia bertemu denganku pekan depan.
Hari berganti hari penantian yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Dengan penuh semangat ku langkahkan kaki menuju kampus seperti biasanya. Dari pagi aku sengaja menunggu beliau di depan ruangannya. Kampus masih kelihatan sepi, tapi itu semua tidak membuatku merasa malas ataupun tidak semangat. Ternyata setelah berjam-jam lamanya aku menunggu dengan sabar, beliau tak kunjung datang. Aku mulai putus asa, tapi aku harus tetap semangat memperjuangkan ini. “Ayo San demi nilai harus bisa, perjuangan belum berakhir sampai disini ayo optimis, pasti hari ini bisa ketemu beliau.”batinku dalam hati. Lagi-lagi aku mencoba menghibur diri. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, akhirnya aku bisa bertatap muka dengan beliau. Alhamdulillah. . Aku mulai menceritakan satu per satu masalah yang kualami, reaksi beliau hanya diam dan berdehem. “Kalau gak dikasih rumus harusnya logikanya jalan mbak.”kata beliau dengan mimik agak kesal padaku. Huft… sekali lagi, akulah yang bersalah dalam hal ini. Aku hanya menundukan kepala dan menyadari kelalaianku itu. Terus aku mencoba minta solusi agar ada kebijakan-kebijakan yang beliau berikan. Ternyata aku harus nunggu lagi sampai keperluan beliau beres. Akupun hanya bisa menunggu dan senantiasa berdoa agar ada keajaiban terhadap nilai mata kuliah ini, sangat berharap lulus tanpa mengulang.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu akhirnya tanpa sengaja dan tak terduga aku bertemu beliau di mata kuliah semester pendek yang sedang aku ambil. Setelah selesai kuliah akupun langsung menanyakan nasib mata kuliahku itu. Hem…..beliau hanya menjawab belum di koreksi, ya sudahlah aku harus sabar menunggunya. Di luar ruangan, terdengar teman-teman sedang asyiknya membicarakan nilai yang sudah pada keluar, aku penasaran, jangan-jangan nilai mata kuliahku itu sudah keluar juga. Aku gak berani lihat nilaiku di SIA. Kuberanikan diri bertanya pada dosenku itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya aku menanyakan hal ini. Dengan segala keberanian yang aku kumpulkan, akhirnya kugerakkan jemari tanganku mencoba mengetik SMS kepada beliau. Deg-degan luar biasa aku menunggu balasan dari beliau. Huft ada pesan masuk di ponselku. Ups ternyata beliau, langsung kubuka kotak masuk diponselku. Hanya SMS singkat yang aku dapatkan, kata beliau nilai sudah masuk. Waahh tambah deg-degan lagi nih, aku semakin berharap dan cemas. Kubalas lagi sms beliau. “Insya Allah saya siap dan ikhlas dengan keputusan yang bapak berikan.” Selang beberapa menit beliau membala SMSku,
Saya hargai kejujuran anda dan silahkan lihat nilainya.
 Seketika air mataku pun langsung menetes tanpa harus kusuruh. Aku merasa setitik harapan yang cerah terhadap nilaiku itu benar-benar akan menjadi kenyataan, akupun langsung semangat lagi dan optimis pasti nilaiku lulus. Subhanallah….sebuah kata yang tak bisa di ungkapakan. Aku senang banget mengartikan maksud SMS dari beliau. Namun aku tak langsung berani membuka SIA, setelah beberapa hari Nina mencoba melihat SIA punyaku. Alhasil mata kuliah itu dapat C, dengan berat hati ia memberi tahukan nilaiku itu. Akupun hanya terdiam dan berkata “Alhamdulillah mungkin ini yang terbaik buatku. Tapi aku puas dengan perjuanganku, walaupun hasilnya bukan yang ku harapakan. Tapi aku percaya Allah memberikan bukan apa yang aku inginkan tapi memberikan apa yang aku butuhkan. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan sampai di bangku kerja nanti. Semuanya akan kujadikan pengalaman agar aku lebih teliti dalam menjalankan segala sesuatu. Tetap semangat untuk menuju sesuatu yang terbaik.

Note:
Mohon doanya kawan semester ini aku ngulang mata kuliah ini semoga dapat nilai A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar